Mengenal Sosok Bunda Teresa, Penerima Nobel 44 Tahun Lalu

Bunda Teresa Calcuta

IDNKatolik.com – HATINYA selembut sutra. Demikian orang menyebut keugaharian dari sosok Bunda Teresa, penerimah Nobel Perdamaian pada 17 Oktober 1979, 44 tahun lalu. Ia dihadiah Nobel Perdamaian atas karyanya mengakui kemanusiaan manusia di atas segalanya. Ia terlibat dalam kehidupan mereka yang kecil dan miskin. Kaum terpinggirkan dan disabilitas menjadi perhatian serius Bunda Teresa.

Ia menjadi biarawati bukan untuk dirinya, tetapi kepada orang-orang miskin. Lahir dengan nama Anjezë Gonxhe Bojaxhiu, Teresa memiliki hati seluas samudera, selembut sutra bagi siapa saja yang mengharapkan pertolongan. Tinggal dan terpesona dengan orang-orang kecil mengasah batinnya menjadi pribadi yang berperasaan halus.

Balutan baju biara putih biru menggambarkan ketulusan hatinya kepada mereka yang tak punya akses menuju mendapat perhatian yang serius. Di usia 18 tahun, hatinya berkobar-kobar bagi mereka yang kecil sehingga ia meninggalkan rumah dan bergabung dengan Susteran Loreto di Irlandia sebagai misionaris.

Usai mengambil sumpah biarawati tahun 1931, ia memilih nama sang patron, teladan orang kecil, St. Thérése de Lisieux, santo pelindung misionaris, tetapi kemudian nama tersebut telah dipakai dan ia kemudian memilih nama Teresa.

Kecintaan kepada orang-orang kecil, membawanya pada tahun 1948 tiba di India menjadi misionaris di sebuah sekolah di Motijhil (Kalkuta). Setahun berikutnya, dia bergabung dengan sekelompok perempuan muda dalam usahanya dan bersama-sama mereka mendirikan sebuah komunitas baru dengan tujuan membantu mereka yang paling membutuhkan di antara kaum miskin. Inisiatif ini dengan cepat menarik perhatian pejabat India, termasuk perdana menteri.

Merasa bahwa untuk bisa mencapai akar persoalan kepada orang-orang miskin di Calcuta, Teresa harus keluar dari rasa nyaman biaranya. Ia harus meninggalkan tembok-tembok kaku biara sehingga bisa lebih bebas melayani. Akhirnya pada 1950, ia mendirikan Misionaris Charitas (Missionaries of Charity). Awalnya, kongregasi itu terdiri dari 13 anggota tetapi kemudian berkembang menjadi 4.000 lebih suster. Pada 1952, Bunda Teresa mendirikan Home for the Dying di Kalighat sebagai rumah sakit gratis bagi orang miskin.

Pada 1955, dia juga mendirikan Nirmala Shisu Bhavan sebagai tempat perlindungan yatim piatu dan remaja tunawisma. Kongregasi tersebut kemudian semakin berkembang ke berbagai belahan dunia, termasuk Amerika Serikat pada 1965.

Dari Teresa, dunia belajar tentang kesempurnaan dalam melayani. Memberi diri bagi karya keselamatan menjadi harapan setiap orang. Teresa mengajarkan bagaimana cara mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan di atas segalanya. Setiap orang perlu meninggal dalam dekapan kasih sayang. Setiap orang pantas dihargai bukan karena kaya atau miskin tetapi sebagai ciptaan Tuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *