Kol. (Arh) Ignatius Wahyu Jatmiko: Abdi Negara yang Setia Merawat Kemanusiaan

Ignatius Wahyu Jatmiko

IDNKatolik.com – Memiliki segudang pengalaman di TNI khususnya Korps Artileri Pertahanan Udara. Selain memiliki integritas tinggi pada negara, juga pribadi yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

PADA Oktober 2016, Ignatius Wahyu Jatmiko ditugaskan sebagai Pengajar atau Perwira Penuntun di Australian Command and Staff College Canberra, Australia. Jatmiko ditugaskan mendampingi 11 perwira; delapan dari Australia, satu dari Belanda, Arab Saudi, dan Kamboja. “Tugas ini berat karena sempat dianggap sebelah mata oleh para murid. Tidak mudah mengajak mereka memahami kualitas saya. Saya harus bisa membuktikan diri di depan mereka,” ungkap Kol. Jatmiko.

Tugas ini, sebutnya, paling berat karena membawa nama Indonesia. Ia hadir sebagai duta TNI, sekaligus duta Indonesia. Segala tindakan dan perilaku yang dibuat harus mencerminkan nilai-nilai kebangsaan dan membangun citra Indonesia di mata dunia. Tugas ini membuat dirinya harus menjadi role model bagi para murid.

“Saya harus yakin bahwa tentara Indonesia bisa berdiri sejajar dengan tentara negara lain. Mungkin dari segi peralatan kita kalah, tetapi militansi dan profesionalisme yang dibangun di internal TNI tidak kalah saing. TNI Indonesia memiliki mental bajah dan siap bersaing di mana saja,” tegasnya.

Abdi Negara

Berbicara soal cita-citanya masuk TNI, Jatmiko mengatakan ini adalah jalan panggilannya. Sejak kecil cita-cita menjadi TNI sudah terpatri dalam sanubarinya, hal ini didukung dengan semangat juang yang tinggi. Demi cita-cita ini ia selalu rajin berolahraga dan menjaga kesehatan dan stamina.

Semangat untuk mengabdi tanah air makin terasa ketika menjalani pendidikan di SMA Taruna Nusantara Magelang, Jawa Tengah. Ia kerap bersua dengan para taruna di Akademi Militer. Perjumpaan itu menerbitkan asa dalam benak Jatmiko untuk mengabdi sebagai prajurit negara. Asa itu kian mengkristal ketika ia lulus SMA Taruna Nusantara. Jatmiko melanjutkan pendidikan ke Akademi Militer pada 1994. Setelah tiga tahun mengenyam pendidikan militer, Jatmiko memilih masuk ke Korps Artileri Pertahanan Udara (Arhanud). Korps ini memiliki tugas pokok memberi bantuan senjata sebagai pertahanan udara.

“Saya memilih Arhanud karena korps ini berhubungan dengan alat utama sistem pertahanan yang berteknologi tinggi. Alat-alat canggih ini dibuat negara lain, maka kemungkinan berinteraksi maupun mengunjungi negara pembuat alutsista tersebut besar,” ujar putra kedua dari tiga bersaudara ini.

Lulus Akademi Militer, Jatmiko langsung ditugaskan di Batalyon Arhanud Sedang 8 Kodam V Brawijaya. Ia bertugas mengamankan situasi Indonesia yang tidak menentu pasca era reformasi. Pada 2000, Jatmiko diutus turut mengamankan kerusuhan di kota Ambon, Maluku.

Setelah berjibaku di daerah konflik, Jatmiko mendapat tugas perutusan belajar S-2 di Australia. Tugas ini tantangan baru bagi Jatmiko, lantaran ia masih minim pengalaman. “Tugas ini sebenarnya untuk perwira senior. Selama enam bulan pertama di Australia, saya berada di kampus selama tujuh hari satu minggu. Rata-rata, saya menghabiskan waktu 15 jam setiap hari di sana,” ujar Jatmiko mengenang saat awal berada di Negeri Kanguru.

Upaya Jatmiko berbuah. Ia mendapatkan Petro Fedorczenko Award. Penghargaan ini diberikan kepada siswa program studi Defence Studies dengan nilai kelulusan tertinggi. “Saya merasa ada campur tangan Tuhan, bukan karena kemampuan saya semata,” tutur ayah dua anak ini. Lulus S-2, Jatmiko langsung mendapat tugas sebagai Kepala Urusan Seleksi Pendidikan Luar Negeri di Staf Personel Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI A D). Tak lama kemudian, ia dimutasi ke Pusat Kesenjataan Arhanud, satuan yang berfungsi sebagai pembina personel Arhanud TNI AD.

Misi PBB

Pada 2008, Jatmiko diutus masuk dalam jajaran Military Observer atau pengamat militer dalam misi penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di Georgia atau United Nations Mission in Georgia (UNOMIG). Jatmiko bertugas selama satu tahun di negeri perbatasan benua Eropa dan Asia ini. Ketika bertugas di Georgia, Jatmiko merasakan pengalaman yang menegangkan. Sebagai pengamat militer, ia tak diperkenankan membawa senjata apapun. Jika terjadi konflik bersenjata, jalan satu-satunya menyelamatkan diri hanya melarikan diri.

Dalam suatu patroli, Jatmiko bersama pasukan memasuki sebuah gerbang pos. Di pos itu ia disambut dengan acungan AK 47 milisi petugas jaga pos. Satu-satunya pilihan yang ada hanya mundur cepat. “Ketika mundur, milisi itu menembaki kendaraan kami dengan senapan. Untung sekali tidak ada aksi susulan. Jika sampai ada tembakan roket ke kendaraan, dipastikan tamatlah riwayat kami,” kisah Jatmiko sembari mengurai senyum. Pulang dari Georgia, Jatmiko langsung mendapat penugasan bergabung sebagai pengamat gencatan senjata (arms monitor) dalam United Nations Mission in Nepal (UNMIN) selama satu tahun.

Sepulang dari misi UNMIN pada 2011, pria kelahiran Tangerang, 15 September 1975 ini mengikuti seleksi untuk menempuh pendidikan di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat. Dari 286 perwira yang dinyatakan lulus, Jatmiko bersama 10 perwira lain terpilih menempuh pendidikan Seskoad di luar negeri. Pada akhir Agustus 2012, ia berangkat ke Nanjing, Cina.

Setelah belajar selama satu tahun di Negeri Tirai Bambu, Jatmiko ditugaskan sebagai Kepala Tim Guru Militer dan Pelatih di Pusat Pendidikan Arhanud Malang, Jawa Timur. Ia juga pernah mengemban tugas sebagai Komandan Detasemen Grup C Pasukan Pengaman Presiden (Paspamres). Ia bertugas mengawal tamu-tamu negara penting, seperti mengawal Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki Moon saat Konferensi Tingkat Tinggi United Nations Alliance of Civilization (KTT UNAOC) 2014 di Nusa Dua, Bali.

Lulusan Terbaik

Tahun 2021, Asisten Perencanaan Kodam (Asrendam) XVII/Cenderawasih ini ikut dalam Rapat Pimpinan (Rapim) TNI di Ruang Puskodal Ops Maskodam XVII/Cenderawasih, Jayapura. Rapim ini dibuka langsung oleh mantan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto yang menerangkan beberapa isu besar saat ini yang menjadi sorotan masyarakat. Salah satu yang menjadi perhatian TNI saat ini adalah “senjata sosial baru” yakni internet dan media sosial khususnya di Tanah Papua.

Terkait isu Papua, Jatmiko mengatakan dirinya merasa bahagia bisa ambil bagian dalam tugas di Papua. Dengan bertemu banyak orang yang kecil dan lemah, ia diajarkan untuk peduli dan memberi diri kepada mereka. Menjaga stabilitas keamanan di Papua, katanya, adalah panggilan jiwa yang besar. “Saya merasa medan di Papua tertantang untuk mengedepankan rasa kemanusiaan di atas segalanya,” ungkap Jatmiko.

Di mata teman-teman angkatannya, Jatmiko memang seorang yang berperasaan halus khususnya menghadapi isu-isu kemanusiaan. Dia selalu terlibat menolong dan melayani masyarakat kecil khususnya di pedalaman Papua. Meski begitu, Kolonel Jatmiko seorang yang memiliki integritas tinggi dan intelektual yang mumpuni. Hal ini terbukti saat menjadi peserta didik TNI di Sespimti Polri Dikreg ke-28, Lembang, tahun 2019. Kolonel Jatmiko selain dinyatakan lulus, ia mengantongi lulusan dengan predikat terbaik.

Kol. Ignatius Wahyu Jatmiko
TTL                 : Tangerang, 15 September 1975
Istri                  : Ignatia Martina Endang Widiyanti
Anak               : Samuel Wicaksono Adhi Prabowo dan Nicodemus Satrio Pambudi Waskito
Pendidikan    :

  • SMA Taruna Nusantara Magelang (1991-1994)
  • Akademi Militer Magelang (1994-1997)
  • Master Degree in Defence Studies di University of New South Wales Australia (lulus 2003)
  • Kursus Dasar Perwira Intelijen (2006)
  • Sekolah Lanjutan Perwira Arhanud (2007)
  • Army Command and Staff Course di Nanjing Army Command College (2012-2013)
  • Kursus Komandan Batalyon (2014)

Penugasan      :

  • Batalyon Arhanudse-8 Kodam V Brawijaya (1998-2002)
  • Tugas Belajar Program Pascasarjana di Australia (2002-2003)
  • Kepala Urusan Seleksi Pendidikan Luar Negeri di Staf Personel TNI AD
  • Military Observer di UNOMIG Georgia (2008-2009)
  • Arms Monitor di UNMIN Nepal (2009-2010)
  • Tugas Belajar di Seskoad Nanjing, Cina (2012-2013)
  • Kepala Tim Guru Militer dan Pelatih Pusat Pendidikan Arhanud Malang (2013-2014)
  • Komandan Detasemen Grup C Paspamres (2014)
  • Perwira Penuntun Australian Command and Staff College Australia (2015)
  • Asrendam) XVII/Cenderawasih, Papua

Penghargaan:

  • Satya Lencana Kesetiaan XVI Tahun
  • Satya Lencana Kesetiaan VIII Tahun
  • Satya Lencana Dharma Nusa
  • Satya Lencana Dwidja Sistha
  • Satya Lencana Wira Siaga
  • Satya Lencana Canthi Dharma XV (Misi UNOMIG Georgia)
  • Satya Lencana Canthi Dharma XXIV (Misi UNMIN Nepal)
  • UNOMIG Medal
  • UN Service Medal
  • UNMIN Medal
  • predikat terbaik Akademik Sespimti Polri Dikreg ke-28 di Lembang, Desember 2019

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *