IDNKatolik.com– FILSAFAT Yunani kuno menyebutkan, “tubuh manusia dinilai rendah. Tubuh sering terperangkap dalam jiwa”. Pandangan ini kerap kali merubah sikap seseorang terhadap tubuh manusia. Tubuh sebagai materi yang tidak penting, membuat manusia “menghancurkannya”, tidak penting lagi “kesehatan rohani”.
Meski konsep filsafati ini abstrak, tetapi Mohammad Hanafi berhasil menembus makna terdalam dari tubuh manusia. Baginya tubuh bukan sekadar materi, apalagi terperangkap dalam jiwa. Ia lebih setuju pernyataan Paulus dalam 1 Kor. 3:16, “tidak tahukah kamu, tubuh adalah Bait Allah”. Artinya, Allah tidak lagi tinggal di Bait Allah Yerusalem seperti dilukiskan Perjanjian Lama. Tapi Allah kini menjadi imanen, bertumbuh bersama tubuh yang rapuh membentuk satu kesatuan yang disebut “Bait Allah”. Maka ada tanggung jawab untuk merawat Bait Allah, merawat pikiran dan sikap dengan perilaku, keutamaan hidup, dan nilai-nilai Kristiani searah dengan keinginan Allah.
Berangkat dari semangat ini, John, sapaan Hanafi, terpanggil untuk mendirikan gerakan “Seribu Bait Allah”. Sebuah gerakan yang didukung oleh Program Bea Siswa dan Pengembangan Karier untuk kaum muda Katolik agar bisa terlibat membangun dunia lewat karya dan pekerjaan.
“Tentu semangat ini berlandaskan pada Catholic value, nationalism, competency (attitude, knowledge, hard and soft skill), professionalism (competency dan value add, sertaCareer development,” ujar John.
Dua Program
John mengakui gerakan ini terlihat sangat spiritual, tetapi semangat ini sangat dibutuhkan dalam dunia profan. Ketika seseorang mulai terpanggil mengguluti dunia pekerjaan, diharapkan dalam dirinya ada buah-buah spiritual yang menggerakan. Bekerja dan berkarya bukan semata untuk membangun kehidupan pribadi, tetapi dengan bekerja ia menyumbang waktu, tenaga, dan pikiran untuk kesejahteraan orang lain. Karya manusia adalah tindakan langsung dari Allah yang memberi rezeki. “Maka semua manusia dipanggil terlibat dalam gerakan ini untuk membantu karya-karya Allah di dunia,” sebut John.
Ia menjelaskan, gerakan Seribu Bait Allah bukanlah sebuah gerakan membangun Gereja secara fisik, tetapi sebuah gerakan membangun dan membekali manusia khususnya generasi muda Katolik agar mampu membangun, memelihara, dan mempertahankan dirinya untuk tetap kudus. “Sebab Roh Allah hanya berdiam di tempat yang kudus, sehingga membangun dan menjaga kekudusan manusia harus diutamakan agar Roh Allah tetap tinggal berdiam di dalamnya,” ujarnya.
Secara konkrit, gerakan ini diwujudkan dalam pemberian beasiswa dan pengembangan karir bagi orang muda Katolik. Gerakan ini memang tidak beraviliasi dengan gerakan aktivis atau melibatkan hierarki tetapi lebih menjadi tanggung jawab perusahaan. Hingga saat ini, gerakan ini telah berhasil membangun sebuah perusahaan khusus PT. Lentera Mondial Karier (LeMondial Career) yang bergerak pada bidang human capital dan career solotion.”
“Perusahaan ini memberikan solusi bagi pengembangan karir, mengidentifikasi kandidat yang berbakat dan kompeten, memberikan kursus atau pelatihan dan program konseling serta pembentukan karkater juga membantu merancang pengembangan jalur kari ranggota.”
John menambahkan, saat ini LeMondial Career mensponsori dua program utama yaitu program bea siswa dan program pengembangan karir. Khusus untuk Program Beasiswa, LeMondial Career memfasilitasi beasiswa sampai 75 persen dengan ikatan dinas lima tahun. Prioritas program beasiswa adalah pada bidang studi yang lebih mudah penerapannya oleh dunia usaha seperti S1 Managemen dengan konsentrasi pada Aviasi (penerbangan); SCM (Logistic and Purchasing; Supply Managemen); Sumber Daya Manusia; Keuangan, dan Marketing.
“Ada juga program diploma bidang vokasional dengan konsentrasi pada perhotelan dan Kuliner; perjalanan wisata; sekretaris dengan konsentrasi pada tiga bidang (keuangan, aviasi, dan logistic); serta bahasa Inggris,” beber John.
Program kedua adalah Pengembangan Karir. Selain merancang jalur karir bagi peserta beasiswa tetapi juga menyalurkannya kepada perusahaan mitra kerja baik di dalam maupun di luar negeri. “Jadi LeMondial Career merekrut mahasiswa-mahasiswi Katolik lainnya yang sedang kuliah atau masih mencari kerja untuk menjadi member. Kandidat selanjutnya akan di assessment dan mengikuti pelatihan. Jika memenuhi kriteria minimal sebagai eligible member sebelum ditawarkan keperusahaan-perusahaan mitra,” tutur John.
Semangat Kristus
Bagi John masih sangat sulit ditemukan di Indonesia, adanya gerakan-gerakan yang berusaha mencerdaskan anak bangsa. Paling banyak biasanya dari beasiswa pemerintah atau Gereja dan lembaga sosial lainnya. Khusus untuk lembaga non pemerintah, seorang setelah mendapatkan beasiswa masih mengalami kesulitan untuk mendapatkan jalur karir. Syukur kalau dari lembaga tersebut menyiapkannya, tetapi kalau tidak ada kesulitan tersendiri bagi penerima beasiswa.
“Analoginya seperti para pemain bola terkenal. Mereka disekolahkan tidak untuk bermain di negara mereka tetapi ke luar negeri. Saat ini saya ada kantor di Malaysia dan Singapura. Saya ingin mereka bisa menembus pasar asing yang ketat dengan persaingan. Tidak saja menjadi anak kampung tetapi harus go internasional.”
Tentu tidak semua orang beruntung mendapatkan beasiswa. Ada begitu banya kanak yang tidakmendapatkannya, setelah kuliah masih sibuk melamar pekerjaan. Program ini mengantar kaum muda tidak saja menjadi pribadi yang beruntung tetapi juga membantu mensejahterakan lewat karir.
“Agar bisa menyentuh anak-anak dari pusat hingga daerah, LeMondial tidak cukup bekerja sendiri. Butuhsupport system dari perusahaan atau lembaga lain agar tujuan utama dari cita-cita kaum muda Katolik tercapai,” ungkap Joni dalam wawancaranya, Jumat, 11/2/2022.
Saat ini sudah ada lebih dari50 anak yang merasakan manfaat dari dua program utama ini. Mereka tidak saja berasal dari kalangan kaum muda Katolik tetapi juga anak muda beragama Islam dari Indonesia Timur. Secara data satu anak untuk dikuliahkan membutuhkan dana sekitar satu juta sampai dua juta per bulan, tergantungbidang studi yang digulutinya. John ingin 25 persen dari biaya itu menjadi tanggung jawab keluarga dengan tujuan agar belajar mandiri dan punya tanggung jawab. Rata-rata 25 persen itu untuk makan minum dan kebutuhan kontrakan selama menjalani studi. “Dulu sekitar 3-4 orang ana-anak korban kerusuhan di Maluku yang mendapatkan bantuan ini 100 persen tanpa mengeluarkan seperserpun. Tapi sekarang kita ingin ada keterlibatan orang tua agar juga merasakan perjuangan dalam mendidik anak-anak.”
Terkait dengan fakultas atau universitasnya, John menyebutkan, kaum muda bisa bersekolah di Institute Transportasi dan Logistik (ITL-Trisakti) dan Saint Mary’s College. “Jadi kita fasilitasi mereka agar cita-cita tercapai. Kalau cita-cita tercapai tentu kesejahteraan dirasakan dan tentu juga ada kedamaian dalam kehidupan. Hal ini sejalan dengan harapan Gereja bahwa bekerja sebagai sarana pengudusan, meresapi kenyataan duniawi dengan semangat Kristus.
Karena karya ini bukan semata mencari keuntungan, John berharap makin banyak orang yang terpanggil untuk bersama-sama berkarya membantu begitu banyak anak muda Katolik yang kurang beruntung. “Bila kita menarik data, banyak sekali anak-anak muda di Indonesia Timur yang tidak seberuntung anak-anak kota. Secara kemampuan mereka bisa, tetapi mungkin tidak ada kesempatan dan peluang,” demikian John yang menargetkan tahun 2022 ini 100 anak muda akan merasakan manfaat dari program ini.
Profil
Mohammad Hanafi
TTL : 25 Maret 1956
Pendidikan :Sarjana Ekonomoi (Major: Airlines Business)
Pekerjaan :Wiraswasta
Karya :
- Usaha : Pada BidangLogistik&Aviasi
- Konsultan : Pada Bidang Purchasing & Supply Management
- Pelayanan : KetuaLingkungan dan anggota DPH Paroki St. Kristoforus Jakarta (6 tahun)
- Seretaris (Ketua) Panitia: Lomba “Maria Bunda Segala Suku”
- Penggagas : Gerakan Seribu Bait Allah yang dikelolahmelaluiLeMondial Career (lemondialcareer.com)




