IDNKatolik.com – PASTOR Yohanes Michael Wemay MSC tiba d Kota Langgur, Tual, Maluku Tenggara. Ia baru ditahbiskan imam oleh Uskup Amboina Mgr Petrus Canisius Mandagi MSC di Gereja Katedral St Fransiskus Xaverius Ambon, 4 Februari 2016 lalu. Kehadirannya disambut meriah biarawan-biarawati, umat, dan keluarga. Tidak saja yang beragama Katolik, pundari Islam dan Protestan menyemut di Bandara Karel Sadsutubun, Langgur.
Pastor Janes, sapaan akrabnya ditahbiskan bersama dua rekannya Pastor Edoardus Ngutra MSC dan Pastor Fransiskus Kandunmas.Kedatangannya di Nuhu Evav (negeri orang-orang Kei, Maluku Tenggara) untuk merayakan Misa pertama di kampung ibunya di Ohoi (desa) Ngadi, Dullah, Tual. Setelah tiba, ia diantar ke Wisma MSC kemudian mengikuti rangkaian Misa perdana di Ohoi Ngadi.
Pemandangan yang menguras air mata tatkala Pastor Janes memasuki Ohoi Ngadi. Desa yang terletak di Utara Tual ini dihuni oleh 70 persen agama Islam selebihnya agama Kristen dan Katolik. Pada 20 tahun lalu, Pastor Janes mengalami panggilan dari ohoi ini. “Saya terharu ketika masuk Ohoi Ngadi. Desa kecil ini mengajarkan saya bagaimana menjadi orang Katolik yang baik,” kisah Pastor Janes.
Tak mau ketinggalan momen spesial ini.Para tokoh agama punmenyambut kedatangan Pastor Janes. Di sana, ia berlutut ditengah beberapa tokoh agama baik haji, haja, pendeta dan dua Pastor – pamannya-Pastor Ricardo Renwarin dan Pastor Berty Ohoiwutun MSC.Mereka menumpangkan tangannya, memberkati anak mereka. Mereka berharap panggilan imamat putera Ngadi ini terus dilindungi Tuhan.Semangat Ain Ni Ain,‘Semangat saling memiliki,’ dan kehangatan keluarga menjadi pengalaman indah olehimam kelahiran Langgur, 08 November 1985.
Beda Agama
Sebelumnya, Pastor Janessudah mengawali Misa perdananya di daerah asal bapaknya yaitu Kairatu, Seram Barat, Maluku. Di Kairatu, mayoritas keluarga yang beragama Protestan pun menyambutnya.Tarian Saureka-reka atau Tari Saba-gaba (pohon Sagu) serta berbagai upacara adat menyambutnya di Kairatu. Bahkan ketika tiba di Kairatu, ia diarak-arak mengelilingi daerah Kairatu, tak sedikit orang beragama Islam dan Protestan menjamah ujung jubahnya.Mereka bangga karena Pastor Janes adalah pastor pertama dari Kairatu. Perhelatan akbar dibuat untuknya yang diawali dengan memberkati Gereja Katolik, Gereja Protestan dan Mesjid.“Sesuai iman Katolik, saya memberkati tempat-tempat ibadah dan saya yakin ini tanda solidaritas umat untuk saya,” ungkap dua dari empat bersaudara ini.
Pastor Janes bertutur, ia lahir dari keluarga yang didalamnya terdapat perbedaan agama, tetapi mereka tidak menjadikan perbedaan itu sebagai suatu masalah. Yusuf Wemay, sangayah beragama Protestan sementara Richarda Renwarin, sang ibudari keluarga Islam yang kemudian diam-diam masuk Katolik beberapa hari setelah Pastor Janes ditahbiskan Diakon. Kedua orang tua menikah secara Protestan. Bila ditarik garis keturunan sang ibu, lanjut Pastor Janes, Opa Buyutnya Daniel Renwarin pernah menikah seorang perempuan Muslimbernama Mi Ina Renuat.Kini banyak keluarga pihak ibu yang beragama Islam bahkan ada paman dan bibinya menjadi imam besar di Ngadi. “Pastor Janes adalah “nafas” keluarga kami. Ia memberi arti bagaimana pela gandong (orang bersaudara) orang Ambon menjadi nyata dalam keluarga,” ungkap sang paman Haji Yusuf Rengur.
Sementara itu, saudara Pastor Janes Novito Jackson Wemay dan dua saudarainyaAmanda Mariyos Wemay serta Ferani Keindah Wemay masih beragama Protestan. “Saya yakin bahwa iman yang saya dan ibunda pilih dapat menjadi jalan untuk kami masuk surga, begitu pun iman yang ayahanda dan ketiga saudara saya.Sebab sebenarnya imanlah yang menyelamatkan kita.”Karena itu, Pastor Janes mengakui panggilan yang tumbuh dalam dirinya karena andil keluarga non Katolik. Banyak perbedaan, demikian Pastor Janes, tetapi kami saling menghargai tanpa mengatakan bahwa saya atau mereka yang terbaik. Sebab pada prinsipnya nilai kekeluargaaan diatas segalanya.
Sebagai Pastor yang lahir dari budaya Kei, Pastor Janes tak pernah lupa ungkapan terkenal AinNi Ain; Vuut Ain Mehe Ngifun, Manut Ain Mehe Tilur artinya,“satu punya satu, kita semua bersaudara yang berasal dari satu sumber, telur dari satu ikan dan satu burung.”“Amsal” orang Kei ini kiranya menggambarkan keluarga besar Pastor Janes. Meski dalam satu rumah terdapat keyakinan berbeda, ada kesadaran bahwa mereka berasal dari satu moyang.
Menjadi Kuat
Pastor Janes mengawali panggilannya dengan masuk Seminari St Yudas Thadeus Langgur (SYT). Dimataanak mudah di sekitaran SYT, Pastor Janes tak asing lagi. Medio 2000-2003, nama bekennya saat itu,“Cannavaro” SYT. Sebagai pencinta klub Juventus, gaya bermain Pastor Janes mirip Fabio Cannavaro-legenda Italia yang berposisi dicentra back.Tiga tahun di SYT, si “Cannavaro” melanjutkan studi di Kelas Persiapan Atas Seminari Xaverianum, Ambon. Dalam pergumulan di seminari ini, ia memutuskan menjadi Misionaris Hati Kudus Yesus (Missionarii Sacratissimi Cordis Jesu/MSC). “Saya tertarik dengan MSC karena, spritualitas hati yang dihidupi mereka.”Dalam sejarah kekatolikan, Langgur, pernah menjadi Vikariat Apostolik Nuova Guinea Olandese dibawah Vikaris Apostolik sekaligus Martir tanah Kei Mgr Arnoldus Johannes Hubertus Aerts MSC.
Selain cara hidup imam MSC, Pastor Janes juga mengakui awal keterterikannya masuk seminari bermula karena Marching Band SYT. Saat itu, anak-anak SYT itu sangat terkenal. Ketika dibuat perhelatan akbar, para seminaris diundang dengan Marching Band mereka. Ketika memainkan musik, mereka terlihat berkelas,gagah, dan disiplin. Banyak orang di seantero Pulau Kei “melirik” bangga pada seminaris.“Menjadi anggota Marching Band itu menjadi cita-cita banyak anak termasuk saya. Hal itu membuat saya masuk seminari,” kisahnya sambil tersenyum.
Usai melamar di Tarekat MSC, Pastor Janes melanjutkan studi selama empat tahun di Seminari Tinggi Hati Kudus Yesus Pineleng, Manado, Sulawesi Utara. Setelah lulus Teologi, ia menjalani Tahun Orientasi Pastoral di Paroki Kristus Raja, Mindiptana,Kabupaten Bovendigul,- 500 kilometer dari Kota Merauke.Dari Merauke, Pastor Janesmelanjutkan studi Teologi di Seminari Pineleng lalu menjalani masa Diakonal diParoki St Antonius Namrole, Buruh Selatan, Maluku. Dalam pengalaman dengan orang-orang kecil, panggilan Pastor Janes semakin terasah. Ia mencoba hadir dan menikmati kesederhanaan umat di Merauke dan Buruh. Dalam kesunyian dan kesederhaan umat, iasemakin yakin bahwa Tuhan memilihnya.
Meski masih balita imamatnya, Pastor Janesdiberi kepercayaan sebagai Pastor Paroki St Yosefat Marlasi, Aru Utara, Kabupaten Kepulauan Aru, Dobo, Maluku Tenggara. Berkaca pada spiritualitas pendiri Tarekat MSC Pater Jules Chevalier, Pastor Janes menuturkan, spiritualitas hati menjadi landasan pelayanannya. Meski menjadi imam di pedalaman, ada keyakinan bahwa Allah terus mencintainya. Karena itu, Pastor Janes mengambil moto tahbisannya, Cum Enim Infirmor Tunch Potens Sum,‘Ketika aku lemah, maka aku kuat (2 Kor.12:9).
Di balik itu semua, kata Pastor Janes, ada kekuatan horizontal yaitu keluarga besar yang berbeda keyakinan. Kasih sayang dalam keluarga menjadi hal utama dalam keseimbanga hidup bersama orang lain. “Kami berbeda tapi memiliki satu aliran darah dari keturunan yang sama. Itu adalah keluarga dan tidak dapat ditukar dengan semua hal. Sebab kebahagiaan justru terletak pada penerimaan seseorang terhadap yang lain dan meyakinkan mereka bahwa kita adalah keluarga,” tandas Pastor Janes.




