Mengenal Rumphius, Ahli Botani Kelahiran Jerman dan Peneliti Alam Maluku

Georg Eberhard Rumphius

IDNKatolik.com – AMBON selalu punya cerita menarik soal misi awal Gereja Katolik masuk di Nusantara. Hingga saat ini, ada banyak jejak misi yang ditinggalkan para misionaris baik dalam bentuk bangunan seperti rumah, benteng pertahanan, barang-barang pribadi hingga karya-karya yang terkenal. Salah satunya adalah karya seorang ahli botani kelahiran Jerman, Georg Eberhard Rumphius.

Karya Rumphius kini didedikasikan oleh tiga misionaris Maluku, Mgr. Andreas Sol, MSC; Pastor Cornelis Bohm, MSC; dan Pastor Willibrordus Zomer, MSC – keduanya sudah almarhum. Sebuah perpustakaan kecil ada di kompleks Gereja Katedral Ambon bernama Perpustakaan Rumphius adalah tanda jejak-jejak karya dari ahli botani ini.

Mgr Andreas Sol, Uskup (Emeritus) Keuskupan Amboina, mengumpulkan karya Rumphius dan mendirikan perpustakaan di kompleks Katedral Keuskupan Amboina, Jalan Pattimura, Ambon, pada 1984, yang sudah dirintisnya sejak 1964. Berkat koleksi buku yang jumlahnya lebih dari 7.000 buah— sebagian besar berbahasa Belanda dan langka serta tidak bisa didapatkan di perpustakaan dunia mana pun—historisitas Maluku tersimpan. Maluku mendunia berkat Rumphius, berkat kerja keras Mgr Andreas Sol, dan Perpustakaan Rumphius.

Peneliti VOC

Rumphius mendidikasikan hidupnya meneliti tanaman tropis di Ambon, Indonesia. Selama perang penjajahan Belanda di Indonesia yang dahulu bernama Hindia Belanda, Rumphius dipekerjakan oleh Perusahaan Hindia Timur (VOC).

Kelahiran Jerman 1 November 1627 ini tiba di Ambon tahun 1965, saat usianya masih 25 tahun ia ikut dengan VOC berlayar selama 6 bulan ke Jawa. Dalam Penelope.uchicaho.edu, Rumphius berlayar ke Maluku, kepulauan kaya raya akan rempah-rempah karena Belanda telah mendirikan pos perdagangan. Nantinya ia tinggal di Maluku selama sisa hidupnya.

Lelaki yang berasal dari keluarga kelas menengah ini memang sejak kecil sudah bercita-cita menjadi seorang peneliti, ingin mengikuti jejak sang ayah yang insinyiur. Maka ketika di Ambon, tahun 10660, ia dipromosikan menjadi “saudagar” dengan rumah yang elegan dan kapal dengan 40 pendayung. Fasilitasitu memungkinkan dia untuk mulai dengan sungguh-sungguh mempelajari tanaman Ambon serta pulau-pulau sekitarnya.

Pada 1663, ia meminta izin agar buku-buku dan peralatan dikirimkan kepadanya di kapal-kapal kompi. Rumphius meneliti dan menuliskan semua tanaman yang bisa ia temukan dari tanah Ambon, Indonesia. Ia mengagumi Ambon yang hijau dan rimbun, kaya dengan spesies tanaman, kontras dengan tempatnya tumbuh besar di Amsterdam. Di Amsterdam, spesies tanaman berbunga yang berguna sangat terbatas. Hal itu, membuatnya tertarik untuk mempelajari dan mendokumentasikan berbagai tanaman bermanfaat di Ambon.

Tujuan Rumphius bukanlah untuk mendapatkan ketenaran atau kekayaan, tetapi untuk berbagi pengetahuan akan kekayaan alam Ambon. Awalnya, tokoh ahli botani Ambon ini menuliskan temuannya dalam bahasa Latin untuk memastikan kehormatan ilmiahnya. Tulisan itu berjudul “Herbarium Amboinense” alias Herbal Ambon.

Buta Sejak Lahir

Di Maluku, ia hampir buta tahun 1670 di usia 42 tahun, saat penelitian ia mendadak mengalami glaukoma. Akhirnya ia dipindahkan ke rumah lebih sederhana di pusat kota Ambon, tujuannya agar lebih mudah beraktivitas. Akhirnya di tempat baru ini ia mulai melanjutkan karyanya dengan menerjemahkan berbagai diktat ke dalam bahasa Latin ke bahasa Belanda. Banyak yang tidak bisa mengerjakan pekerjaan ini.

Selama perayaan Tahun Baru Imlek pada 1674, gempa bumi menghancurkan rumahnya, menewaskan putri bungsunya dan istrinya, “Sahabat utama saya dan penolong dalam pengumpulan tumbuh-tumbuhan dan tanaman”. Gempa dan kematian keluarganya terjadi setelah dia menamai sebuah tanaman anggrek langka yang pertama kali istrinya tunjukkan padanya. Setelah 8 tahun kemudian pada 1682, tokoh ahli botani Ambon ini terpaksa menjual koleksi 360 jenis kerangnya yang berharga dan benda alam lainnya, termasuk yang paling langka dan paling aneh, yang ia kumpulkan di dalam dan sekitar Ambon dari kali pertama tiba di sana (hampir 3 dekade sebelumnya).

Kepada pemilik baru, Grand Duke of Tuscany Cosimo de Medici, Rumphius dengan tajam menulis pesan bahwa benda-benda alam koleksinya adalah “harta yang telah saya kumpulkan selama bertahun-tahun dengan banyak biaya serta tenaga, dan di masa depan, tidak mungkin diperoleh lagi, terutama karena saya sekarang sudah tua dan buta.”

Pada 11 Januari 1687, terjadi kebakaran hebat di kota yang sampai menghancurkan perpustakaan, koleksi tanaman, dan proyeknya “Herbarium Amboinense” yang hampir selesai, baik tulisan, ilustrasi gambarnya. Dengan sedih, ia mengulang pekerjaan lagi. Pekerjaan kali ini tak mudah karena hilangnya spesimen botani asli, yang harus didapat kembali. Pada 1690, 6 buku edisi pertama “Herbarium Amboinense” selesai, bersama dengan ilustrasi berwarnanya, dan sia untuk dikirim ke Amsterdam.

Gubernur jenderal Hindia Belanda saat itu terlebih dahulu meminta Rumphius menyalin semua karyanya. Tugas itu diselesaikan tokoh ahli botani Ambon ini pada 1692, selama itu juga ia mengerjakan 6 buku bagian terakhir dari “Herbarium Amboinense”. “Herbarium Amboinense” bagian pertama dikirim ke Amsterdam, tetapi tidak bisa sampai ke tujuan karena kapal Belanda yang membawanya tenggelam diserang Perancis.

Akhirnya pada 1697, 6 buku asli dari bagian pertama “Herbarium Amboinense”, serta 6 buku dari bagian kedua tiba dengan selamat. Tokoh ahli botani Ambon ini juga mampu menyelesaikan “Amboinensis Auctuarium” atau suplemen tambahan seputar tanaman di Ambon.

Secara keseluruhan, akan ada 12 buku (terdiri dari dua bagian) “Herbarium Amboinense” yang diterbitkan dalam 6 volume, yang terakhir pada 1750. Buku “Amboinensis Auctuarium” diterbitkan 5 tahun kemudian sebagai volume ke-7, hampir satu abad setelah Rumphius pertama kali memulai karyanya dengan kerja keras yang beberapa kali harus melewati bencana.

Saat kematiannya, makam Rumphius juga mengalami beberapa kali cobaan. Selama pemerintahan Inggris di Maluku, gubernur Inggris menjual sebidang tanah tempat tokoh ahli botani Ambon itu disemayamkan kepada operator swasta.

Georg Eberhard Rumphius meninggal pada 15 Juni 1702. Gubernur Maluku Hindia Belanda sangat menghargai dan mengakui dedikasi Georg Eberhard Rumphius sebagai tokoh ahli botani Ambon. Dalam sebuah surat Gubernur Maluku Hindia Belanda berkata bahwa sekarang “tidak ada lagi yang bisa diharapkan dari Tuan Tua, karena dia sudah tiada.”

Keuskupan Amboina hingga kini mengakui karya Rumphius tidak saja sebagai ahli botani tetapi turut membantu karya misi khususnya soal jejak-jejak sejarah. Perpustakaan Rumphius jadi sumber belajar masyarakat internasional yang ingin mengenal Maluku. Maluku tak hanya dikenal sebagai penghasil rempah- rempah, tetapi isi buku itu juga menyajikan perkembangan kehidupan Maluku hingga saat ini dengan berbagai dinamika di dalamnya.

Di antara catatan Rumphius, terdapat tulisan tentang tsunami tertua dan pertama di Nusantara (Indonesia)—satu-satunya catatan di dunia—yang melanda Ambon dan Seram pada 17 Februari 1674. Tsunami itu menewaskan 2.322 orang.

Catatan yang ditulis Rumphius pada 1675 adalah satu-satunya naskah saat Rumphius masih hidup. Yang lain, yang dikerjakan lebih dari 39 tahun dalam keadaan buta, baru terbit setelah Rumphius tiada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *