Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ: Uskup Pribumi Pertama, Pahlawan Nasional Indonesia

Mgr Albertus Soegijapranata SJ

IDNKatolik.com – Albertus Sugiyapranata (Soegijapranata) adalah Uskup Agung Pribumi pertama di Indonesia. Dikenal dengan nama lahir Soegija, ditahbiskan uskup tahun 1940. Ia dikenal dengan pendiriannya pada pro nasionalis yang sering disebut, “100 % Katolik, 100 % Indonesia.”

Lahir dari keluarga sederhana, sang ayah seorang abdi dalem di Susuhunan Surakarta. Berasal dari keluarga Muslim karena sang kakek adalah seorang Kiai. Sewaktu kecil ia pindah ke Yogyakarta dan disana sang ayah sebagai abdi dalem di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat untuk Sultan Hamengkubowono VII, sementara ibunya seorang pedagang ikan.

Soegija bersekolah di Sekolah Angka Loro di wilayah Kraton. Ia dikenal anak cerdas maka tahun 1901, ia diminta para imam Jesuit yaitu Pastor Frans van Lith untuk bergaung di Kolese Xaverius, sekolah Jesuit di Muntilan.

Pengakuan atas Kemerdekaan

Peran Soegija sangat besar bagi bangsa Indonesia. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945 berkumandang, Soegija menyadari bahwa perjuangan bangsa ini belum berakhir. Perjuangan mendapatkan pengakuan kemerdekaan oleh bangsa-bangsa lain adalah hal yang mutlak diperlukan republik ini.

Kelahiran Surakarta 25 November 1896 ini melihat sebuah situasi uaitu meskipun Ir. Soekarno sudah memprolamirkan kemerdekaan, nyatanya dibeberapa tempat seperti Surabaya, Bandung, Ambarawa, Semarang, Medan, hingga Jakarta, Belanda masih melakukan aski terornya.

Soegija tampil terdepan dalam upaya mendapatkan pengakuan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Lewat kata-kata dan tulisan yang bernas, Soegija tampil berbicara di even internasional yang diliput media asing. Usahanya ini berbuah manis dengan datangnya pengakuan. Vatikan menjadi entitas politik pertama di Eropa yang mengakui bahwa Indonesia sebagai negara yang merdeka.

Tentu hal ini berkat diplomasi yang dilakukan Soegija pada 18 Januari 1947. Seorang diplomat dari Vatikan, utusan Paus langsung menyampaikan kekejaman tentara Belanda di Indonesia. Vatikan mengakui kemerdekaan Indonesia pad 6 Juli 1947. Sekaligus, Vatikan menggerakan hati umat Katolik di seluruh dunia untuk melakukan hal yang sama serta berdampak pula ke masyarakat internasional.

Jauh sebelumnya, saat pergerakan Jepang memasuki Nusantara, Mgr. Petrus Wilekens, Vikaris Apostolik Batavia agar terbentuk vikariat apostolik yang berpusat di Semarang, Jawa Tengah supaya memudahkan konsolidasi Gereja. Terjadilah sebuah vikariat apostolik di bagian timur yaitu Semarang pada 25 Juni 1940. Sebuah telegram diterima Mgr. Willekens pada 1 Agustus 1940 dari Kardinal Giovanni Battista Montini yang menyatakan bahwa Soegija menjadi pemimpin vikariat baru tersebut. Setelah setuju dengan penugasan itu, pada 30 September 1940, ia pindah ke Semarang. di Gereja Rosario Suci di Randusari, ia dikonsekrasikan oleh Willekens pada 6 Oktober 1940.

Begitu ia ditahbiskan, ia segera mengeluarkan surat Maximun Illud dari Paus Benediktus XV untuk penentuan hierarki gereja di Jawa Tengah dengan tugas dan kedudukan yang jelas. Termasuk ketika pendudukan Jepang, Soegija tampil menyuarakan keadilan dan menguatkan umat beriman. Terlebih saat pemerintah Jepang menangkap ribuan pria dan wanita, mayoritas Belanda, baik awam maupun klerus. Sejumlah gereja disita termasuk usaha menyita katedral Semarang.

Seogija menolak dan menyatakan sikap keras terhadap keinginan Jepang itu. Berbagai cara dibuat untuk mempertahankan bangunan gereja dan berbagai aset gereja lainnya.

Pertempuran Lima Hari

Pertempuran Lima Hari terjadi antara rakyat Indonesia melawan tentara Jepang di Semarang pada masa transisi kekuasaan ke Belanda. Peristiwa ini terjadi pada 15-19 Oktober 1945. Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia dinyatakan, banyak prajurit Jepang yang masih belum bisa kembali ke negaranya. Seiring dengan itu, pasukan Sekutu, termasuk Belanda, mulai datang ke Indonesia.

Tujuan kedatangan mereka adalah untuk melucuti senjata dan memulangkan para mantan tentara Jepang yang masih tersisa.  Pada 14 Oktober 1945 terjadi perlawanan dari 400 mantan tentara Jepang terhadap Indonesia. Perlawanan ini menjadi pemicu awal terjadinya Pertempuran Lima Hari.  Saat itu, para mantan tentara Jepang akan dipindahkan ke Semarang, tetapi melarikan diri dari pengawasan para pemuda Indonesia. Ratusan bekas serdadu Jepang ini melakukan perlawanan dan kabur ke daerah Jatingaleh. Di sana, para tentara Jepang ini bergabung dengan pasukan batalion Kidobutai, prajurit yang ditarik mundur dari Perang Asia Pasifik, yang dipimpin oleh Mayor Kido.

Tanggal 15 Oktober, orang dari Kidobutai tiba di Semarang dan disambut angkatan muda Semarang dengan mendapat dukungan dari Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Terjadilah pertempuran antara mereka di beberapa titik seperti Kintelan, Pandanaran, Jombang, dan depan Lawang Sewu (Simpang Lima).

Pada 15 Oktober, orang dari Kidobutai mendatangi Kota Semarang.  Kedatangan mereka ini disambut oleh angkatan muda Semarang dengan mendapat dukungan dari Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Pertempuran antara mereka pun terjadi selama lima hari.  Perang Lima Hari Semarang terjadi di empat titik, yaitu Kintelan, Pandanaran, Jombang, dan di depan Lawang Sewu (Simpang Lima).  Untuk menyelesaikan pertikaian, dikirimlah wakil dari Indonesia yaitu Kasman Singodimedjo, jaksa agung Indonesia, dan Sartono. Perdamaian terjadi pada 20 Oktober 1945 dimana pihak sekutu melucuti seluruh persenjataan para tentara Jepang.

Menentang PKI

Pasca Kemerdekaan dan Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia pada 27 Desember 1949, diawali dengan Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Soegija kembali ke Semarang. Tetapi gangguan masih terus terjadi. Terjadi perselisihan besar antara gereja di Indonesia dan Partai Komunis Indonesia.

Soegija menganggap PKI mendapatkan lebih banyak pendukung dari keluarga miskin karena menawarkan hal buruh lewat para pekerjannya. Ia lalu membentuk suatu organisasi dengan tujuan agar Pancasila sungguh-sungguh dihidupi oleh rakyat. Organisasi tersebut meliputi dari Ikatan Petani Pancasila, Ikatan Buruh Pancasila, Ikatan Nelayan Pancasila, dan sebagainya.

Singkatnya, Soegija berkeyakinan melalui kelompok-kelompok yang terbentuk ini semua agama dan kepercayaan dapat saling bertemu serta saling menerima atau menghargai satu sama lain. Soegija tampil mengajak orang-orang miskin, kaum buruh, petani dan nelayan untuk perbaikan ekonomi untuk kesejahateraan bersama.

Dari cara tersebut dapat dilihat bahwa Soegija adalah orang yang terbilang nasionalis. Orang yang mementingkan kepentingan bangsa daripada kepentingan kelompok tertentu atau golongan Katolik. Bila disimpulkan, ia merupakan seseorang yang pluralis sejati.

Mempersiapkan Warga Negara

Dalam nasihatnya di Surat Gembala Prapaskah (6 Februari 1956): “Bapak-bapak dan ibu-ibu yang terhormat, didiklah anak-anakmu secara Katolik dan nasional, supaya mereka itu terus maju dalam lapangan rohani dan jasmani dengan mengindahkan agama dan kebangsaannya, siap untuk meluluskan tugas sebagai rohaniwan atau awam yang boleh dipercaya”.

Menurut Soegija, semangat cinta tanah air ini dapat dimulai dari pendidikan di keluarga. Maka dalam Surat Gembala, Mgr. Soegijapranata menegaskan perhatian kesatuan antara kebangsaan dan ke-Katolikan-an, memberi perhatian yang sama kepada bangsa dan agama. Keagamaan dan kebangsaan bukan dikotomi yang harus dipilih salah satu, melainkan harus ada bersama-sama dalam kesatuan manusia Indonesia yang beragama.

Pahlawan Nasional

Karyanya yang besar ini membuat ia diangkat sebagia uskup agung Semarang pada 3 Januari 1961 sejalan dengan kemandirian Gereja Katolik. Saat ini berlangsung, Soegija sedang mengikuti Konsili Vatikan II. Karyanya yang selalu digaungkan adalah menunjukkan keprihatinan akan keadaan pastoran dan meminta modernisasi gereja.

Sayang karya ini akan dilanjut sang penerus karena kondisi kesehatannya tidak memungkinkan. Ia kurang sehat sehingga dirawat di Rumah Sakit Elisabeth Candi pada 1963. Dalam kedamaian, Mgr. Soegijapranata meninggal pada 22 Juli 1963 akibat serangan jantung.

Soekarno yang tidak ingin Soegija dimakamkan di Belanda segara meminta agar jenazahnya dikembalikan ke Indonesia untuk dimakamkan. Ia dimakamkan dalam upacara kebesaran di Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal 30 Juli 1963.

Pada 26 Juli 1963, melalui Keputusan Presiden No. 152/1963, Soegijapranata dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *